---
Pemerintah Zimbabwe mengumumkan keadaan gawat darurat atas wabah kolera yang dialami oleh negara tersebut menyusul kolapsnya sistem pelayanan kesehatan negara tersebut sehingga perlu bantuan pihak Internasioanal untuk bantuan obat-obatan, makanan, dan peralatan rumah sakit. Rumah-rumah sakit umum sebagian tutup karena kekurangan obat-obatan dan perlatan.
Wabah kolera di Zimbabwe mulai merebak pada November akhir 2008 kemarin dan sampai saat ini menewaskan hampir 600 orang dan 12.500 orang telah terinfeksi kolera yang kemungkinan dapat tewas jika tidak segera mendapat perawatan medis. Menteri kesehatan Zimbabwe, David Pariretnyawa, mengatakan rumah sakit pusat sudah tidak dapat berfungsi lagi dan menyatakan status genting tersebut pada pertemuan dengan petugas bantuan internasional dan mengharapkan bantuan uang untuk membeli makanan dan obat-obatan.
Epidemi kolera terjadi karena akibat kurangnya air bersih dan pipa saluran air yang rusak. Keadaan diperparah dengan resesi yang dialami negara tersebut sejak krisis global dimana terjadi inflasi yang sangat tinggi sehingga nilai uang tidak berharga lagi, membuat harga makanan dan obat-obatan sangat mahal dan sulit didapat. Adanya masalah politik setahn terakhir antara kubu pemerintah dengan pihak oposisi juga semakin memperparah keadaan.
Di tengah kondisi wabah yang sedang merebak dan keadaan politik yang tidak stabil selama hampir setahun, polisi antihuru-hara juga membubarkan massa aksi protes serikat buruh serta dokter dan perawat di Harare, ibukota negara tersebut. Aksi ini meminta pemerintah untuk menaikkan gaji dan mengecam nilai tukar dolar Zimbabwe yang terus merosot dan angka inflasi yang mencapai jutaan persen. Sebelumnya Zimbabwe merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbaik di Afrika. Dengan adanya wabah ini maka menambah tekana pemerintah gna menyelamatkan Zimbabwe dari tepi kehancuran.
Menurut WHO (Badan Kesehatan PBB), wabah kolera juga telah mulai menyebar di negara tetangga Zimbabwe, antara lain Afrika Selatan, Botswana dan Mozambik. Awal pekan lalu pejabat tinggi Afrika Selatan mengatakan bahwa tempat penampungan air Afrika Selatan di sungai Limpopo yang menjadi batas wilayah Zimbabwe telah tercemar dengan Vibrio cholera, bakteri penyebab kolera. Federasi Internasional palang merah melaporkan 6 orang tewas karena kolera di Afrika Selatan dan 400 orang diperkirakan terinfeksi.
Para negara tetangga wilayah Afrika Selatan saat ini sedang membicarakan langkah penatalaksanaan kolera. Diskusi menjadi pokok persoalan paling penting saat ini. Presiden Afrika Selatan Kgalema Motlanthe merencanakan untuk mengadakan rapat kabinet "untuk membahas cara-cara yang bisa ditempuh Afrika Selatan dengan negara-engara lain di wilayah itu, meminta bantuan organisasi sosial dan kemanusiaan untuk situasi mendesak ini," ujar juru bicara Themba Maseko, Selasa waktu setempat.
Agen-agen PBB, kedutaan dan LSM dimintai bantuannya. "Kami butuh pool untuk menyatukan segala bantuan dan perlu memantau seberapa mampu kami merespons kondisi gawat darurat ini," ujar Agostino Zacarias, Direktur Program Pembangunan PBB di Zimbabwe.
---
05 Desember, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar