Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Pendidikan. Tampilkan semua postingan

25 November, 2008

Beasiswa Dari Pejabat Negara

Setelah membuat posting ku sebelumnya tentang "Mahalnya pendidikan: Guru vs. Buku" aku sempat berfikir kira2 bagaimana ya supaya kita menghasilkan banyak generasi muda penerus bangsa yang dengan intelektualitas yang tinggi....

Aku akhirnya mendapat ide, bagaimana seandainya jika setiap pejabat di republik ni mau memberikan beasiswa epada 2-3 orang anak Indonesia yang benar2 miskin dan bener2 pingin sekolah. Jadi kalau seandainya ada 100 pejabat di negeri ini, berarti bakal ada 200-300 calon intelektual muda. Kemudian ke setiap anak yg mendapat beasiswa tadi diajarkan prinsip dimana kalau dia nanti sukses dia harus melakukan hal yang sama. Bayangkan beberapa tahun mendatang Indonesia akan memiliki org2 yg cerdas.

Dalam hal ini beasiswa yang diberikan juga jgn tanggung2, bila perlu ke luar negeri, cari ilmu banyak2 dan minta pulang dengan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi negeri ini. Bangun bangsa ini.

Atau mungkin supaya negara tidak terlalu membuang2 uang pendidikan (yg 20% dari APBN itu),yang kadang salah sasaran, maka pemerintah menyisihkan anggaran tersebut buat beasiswa 200 orang Indonesia untuk bersekolah di berbagai cabang ilmu sampai tinggi, dengan diberi tahu bahwa nanti kalo dah selesai maka hrs mengabdikan dirinya buat negara,ya kayak Jepang lah....Maka kemungkinan masalah bangsa ini dapat diatasi karena yang memegang kendali adalah org yang benar2 ahlinya.

Tapi semua itu hanya dapat dijalankan pada kondisi2 yang ideal. But kalau bisa apa gak lebih baik..
Setuju????

Mahalnya Pendidikan : Guru vs. Buku

Melihat krisis global yg semakin memburuk akhir2 ini mau tidak mau membuat masyarakat semakin susah. Makin banyak aja tuh orang miskin, makin banya orang yang sulit untuk makan, makin banyak anak2 Indonesia yg putus sekolah. Lihat saja di koran2, banyak sekali potret kehidupan yg mencerminkan sisi lain negara kita, yaitu:

"kesusahan hidup"

Saya berfikir, bagaimana nasib bangsa kita di masa yg akan dtg kalau tiap hari saja ada beratus-ratus anak indonesia yg putus sekolah. Kita tidak bisa menyalahkan orang tua mereka yg tidak mau lebih berusaha untuk menyekolahkan anak2nya. Tidak ada dimana pun orang tua yg rela membiarkan anak nya bekerja membantu menghidupi keluarga dibandingkan melihat mereka di bangku sekolah. Tidak ada. Semua orang tua berharap anaknya suatu saat dapat hidup lebih baik dari mereka. Untuk masa depan yg lebih baik tentu dengan bersekolah hingga perguruan tinggi, walaupun kita tdk menampik adanya nasib yg berperan. So semuanya tergantung pendidikan.

Masalahnya, bagaimana mau sekolah kalau buat makan saja susahnya minta ampun. Gaji yang 25 ribu sehari sudah habis buat beli beras, minyak tanah, dan minyak goreng, itupun dengan lauk yg seadanya.

Oleh pihak pemerintah direspons dengan mengumumkan bahwa sekolah itu gratis uang sekolahnya yang membuat masyarakat kembali bisa berharap. Namun benarah persoalannya sampai disitu?? No way...

Masalah utamanya ternayata adalah pada adanya pungutan uang buku di sekolah yang bisa dibilang sangat mahal. Tetangga saya yg kebetulan mempunyai anak yg duduk di bangku kelas2 SMP negeri berkata: "sebenarnya kalo masalah uang sekolah saya bisa membayar, tapi uang bukunya itu lho yg gak habis pikir.."

Memang buku di dunia pendidikan sangatlah penting, tapi bukan berarti mutlak harus ada khan? Lantas kalau begitu apa peran seorang guru di sekolah? Bukankah seornag guru juga merupakan sumber ilmu yang sangat bernilai? Sehingga diharapkan bagi kalangan guru, mohonlah supaya lebih prihatin dengan kondisi pendidikan kita sekarang. Ajarlah semampu yang bisa diberikan, dan jangan terlalu memaksa murid2 nya untuk membeli buku karena ters terang itulah yang sangat membebani orang tua. Bagi seorang mahasiswa mungkin buu memang merupakan prioritas, tetapi bagi anak SD? SMP? SMA? Jadikanlah buku hanya sebagai bumbu pelengkap pelajaran.

Malahan ilmu yang diserap dari penjelasan seorang guru dibandingkan dengan yang dibaca dari sebuah buku jauh lebih baik dan bertahan lebih lama karena dalam belajar "Doing is better than listening, and listening is better than seeing."